Manado, DetikManado.com – Provinsi Sulawesi Utara bersiap menjadi panggung utama bagi umat Katolik se-Indonesia. Pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Tingkat Nasional IV tahun 2027 resmi ditetapkan akan berlangsung pada 17 hingga 21 November 2027, dengan kolaborasi strategis antara Kota Manado dan Kota Tomohon sebagai pusat kegiatan.
Ajang akbar ini diprediksi akan menyedot perhatian nasional dengan kehadiran sekitar 7.500 peserta yang terdiri dari kontingen lomba, official, pendamping, hingga tamu undangan dari berbagai provinsi di Indonesia.
Ketua Bidang Penyelenggaraan, Dr Art Merung, menegaskan bahwa pembagian lokasi antara Manado dan Tomohon bertujuan untuk mengoptimalisasi fasilitas dan memberikan pengalaman budaya yang maksimal bagi para peserta.
“Kami telah memetakan venue dengan sangat teliti. Kota Manado akan difokuskan untuk kategori grup dan acara pembukaan, sementara Kota Tomohon akan menjadi pusat lomba perorangan serta puncak perayaan festival. Ini adalah representasi sinergi yang kuat di Sulawesi Utara,” ujar Art Merung dalam keterangan resminya.
Pembagian Venue: Manado untuk Grup, Tomohon untuk Perorangan
Di Kota Manado, pusat kegiatan akan tersebar di beberapa titik strategis seperti Aula Mapalus Kantor Gubernur, Graha Bumi Beringin, hingga Manado Convention Center. Sekitar 6.500 peserta, khususnya dari kategori paduan suara dan musik kolintang, dijadwalkan akan menetap di ibu kota provinsi ini.

Sementara itu, Kota Tomohon yang dikenal sebagai Kota Bunga, akan menyelenggarakan lomba-lomba perorangan seperti Bermazmur, Bertutur Kitab Suci, dan Cerdas Cermat Rohani. Venue yang disiapkan antara lain Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen dan Stadion Babe Palar.
Moderator LP3KD Provinsi Sulawesi Utara, Pastor Paulus Mentang Pr menekankan bahwa acara ini lebih dari sekadar perlombaan seni suara.
“Pesparani bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang pembinaan iman dan budaya. Puncaknya nanti di Tomohon melalui Christ Of The King Festival akan menjadi simbol persaudaraan dan kebersamaan umat Katolik Indonesia yang inklusif,” jelas Pastor Paulus.
Dampak Ekonomi dan Pariwisata
Selain menjadi ajang liturgi dan budaya, perhelatan besar ini diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata di Sulawesi Utara. Dengan ribuan orang yang hadir, sektor perhotelan, UMKM, dan destinasi wisata di Manado serta Tomohon dipastikan akan merasakan dampak positif secara langsung.
Acara akan ditutup dengan kemeriahan parade, defile, serta konser budaya Katolik Kawanua yang akan mempertemukan seluruh peserta dari penjuru nusantara di Tomohon sebagai simbol persatuan dalam keberagaman. (yos)















