Diskusi Publik Islamisme dan Radikalisme di IAIN Manado

Diskusi berlangsung di Gedung Terpadu lantai 2 ruang Pusat Kajian IAIN Manado, Jumat (30/08/2019).

Manado, DetikManado.com – Public Discussion mengenai Fenomena Islamisme & Radikalisme di  PTKI yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) & Pusat Studi Masyarakat Muslim di Minahasa (PS3M) bekerja sama dengan Prodi Sosiologi Agama FUAD IAIN Manado berlangsung di Gedung Terpadu lantai 2 ruang Pusat Kajian IAIN Manado, Jumat (30/08/2019).

Diskusi ini menghadirkan pembicara dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr Sekar Ayu Aryani MA selaku dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Yogyakarta. Sejumlah dosen dan mahasiswa IAIN Manado menghadiri kegiatan ini.

Bacaan Lainnya

Dalam diskusi Ayu Aryani menyampaikan mengenai proses pembelajaran di PAI yang cenderung sangat konvensional dan belum sepenuhnya mengedepankan pendidikan kritis dan juga pengembangan wacana keislaman kontemporer. “Jadi modelnya memang masih model ceramah pada umumnya, itu pun ceramahnya tidak interaktif, persis seperi khutbah. Karena itu, bagaimana mahasiswa mau menjadi kritis kalau seperti itu caranya dan itulah yang terjadi di sistem produksi gurunya,” ungkap Aryani.

Diskusi ini menghadirkan pembicara dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr Sekar Ayu Aryani MA.

Selanjutnya Aryani menjelaskan kapasitas bahasa asing terutama bahasa Arab dosen maupun mahasiswa. Dosen secara umum baik tapi tidak ada baik sekali. “Padahal teorinya kalau maksud kita baik, dosennya juga harus baik sekali dan kapasitas bahasa asing terutama bahasa Arab mahasiswa secara umumnya rendah,” ujarnya.

Sementara sikap mahasiswa, lanjutdia, menunjukan level Islamisme yang tinggi meski 89,2 persen setuju Pancasila sebagai dasar sejalan dengan agama. Namun yang setuju dengan formalisasi Syariat Islam juga ada 45,7 persen dan anti Demokrasi ada 46,2 persen. Sedangkan anti agama lain ada 43,6 persen, anti barat lebih banyak lagi 66,4 persen. “Sebanyak 47,1 persen setuju Islam hanya dapat tegak dengan Negara Islam khilafah,” ujarnya.

Aryani mengatakan, 47,1 persen setuju Islam hanya berlaku dengan khilafa. “Ya gimana mereka tidak mengatakan itu sebuah fenomena Islamisme dan ini kami menyimpulkan bahwa Islamisme dan radikalisme sudah sangat menjadi fenomena di PTKI,” jelasnya.(tr-02)


Pos terkait