Musibah Kebudayaan: Ketika Taman Budaya Diubah Menjadi SPBU

Musibah Kebudayaan

Alih fungsi Taman Budaya menjadi SPBU adalah musibah kebudayaan. Fenomena ini menyentuh ranah filosofis, etis, spiritual, humanis, sosial, psikologis, antropologis, dan yuridis. Ini peringatan keras: ketika budaya diabaikan, peradaban manusia terancam.

Tanggung jawab kolektif pemerintah dan masyarakat adalah memastikan ruang kebudayaan tetap hidup, lestari, dan menjadi rumah bagi ekspresi manusia. Seni bukan sekadar hiburan; ia adalah nadi peradaban. Mengembalikan Taman Budaya berarti mengembalikan martabat manusia, kreativitas generasi muda, dan identitas Sulawesi Utara. (*)

Referensi

Bourdieu, Pierre. The Field of Cultural Production. 1993.

Dewey, John. Art as Experience. 1934.

Eliade, Mircea. The Sacred and the Profane. 1957.

Fromm, Erich. The Art of Loving. 1956.

Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed. 1970.

Geertz, Clifford. The Interpretation of Cultures. 1973.

Giddens, Anthony. The Consequences of Modernity. 1990.

Harvey, David. Rebel Cities: From the Right to the City to the Urban Revolution. 2012.

Kant, Immanuel. Critique of Judgment. 1790.

Lyotard, Jean-François. The Postmodern Condition. 1979.

Maslow, Abraham. Motivation and Personality. 1954.

May, Rollo. The Courage to Create. 1975.

Nussbaum, Martha. Not for Profit: Why Democracy Needs the Humanities. 2010.

Rawls, John. A Theory of Justice. 1971.

Rendra, W.S. Puisi-puisi. 1990.


Pos terkait