Bagi saya, secara pribadi. Nama Cak Nur sangat familiar sejak saya memutuskan untuk bergabung dengan kawan-kawan idelogis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cab.Tondano Badko Sulawesi Utara- Gorontalo semasa masih mengembara dan bergelut didunia akademis, sejak Tahun 2014 mengikuti Basic Training LK-I HMI dimesjid Al-haq kampung baru Tondano Sulawesi Utara dan sampai mengikuti tahapan proses Intermediate Training tingkat nasional atau LK-II di-HMI Jakarta Pusat Utara 2017. Waktu itu, ketua Cabangnya dipimpin oleh Kakanda Adim Rajak. Kerap, saya menyapanya dengan sapaan akrab Kanda Dimpo. Disela-sela forum intelektual tersebuat, hadir juga Kakanda Budhy Munawarahman sebagai sala satu narasumbernya. Kanda Budhy, begitulah saya menyapanya. Ia adalah staf khusus Cak Nur semasa hidupnya bahkan saya menyebut beliau murid kesayayangnya Nurcholish Madjid yang intens dan komitmen sampai hari ini mengembangkan, membumikan sekaligus merekonstruksi buah pemikiran mercesuarnya sang guru bangsa Cak Nur dan ada juga rekan-rekan sejawatnya seperti; Kang Nafiz, Yudi latif, Fachrurozi Majid, Udah Elza, Peldi Taher dan beberapa Intelektual Muslim Indonesia yang akrab secara ideologis, intelektual bahkan emosional dengan Cak Nur yang telah dengan sabar, tekun dan gigih serta dengan penuh tanggung jawab untuk senantiasa mewarisi sikap, pola pikir, laku serta pandangan dan pemikiran Almarhum Cak Nur. Hemat saya, kita patut. mengucapkan banyak terimakasi kepada mereka atas jasa kepiawaian merekalah kita masih merasakan dekat dengan Cak Nur hingga hari ini terlebih khusunya kader HMI Se-Indonesia. Terimakasi atas jasa-sajanya para mentor-mentor hebat yang selalu dan bosan-bosan menginspirasi kita semua.
Nurcholish Madjid (Cak Nur) dalam karyanya yang sangat monumental; Islam Dokrin dan peradaban (1992). Acapkali ia menyebut bahwa manusia ialah manifestasi Tuhan dimuka bumi, ada nilai-nilai Ke-Tuhanan dalam diri manusia. Baik melalui analogi putra maupun anak, dan yang menjadi inti ialah manusia. Ia tegaskan bahwa tidak serta merta Yuses Kristus sebagai Putra Tuhan dimaknai hanya pada wilayah tertentuh semisalnya aspek tekstual semata melainkan juga harus dimaknai secara mendalam melalui proses penelaan secara kritis. Kalau ada yang melarang mengucapkan “Natal” dengan dalil-dalin agama secara sempit tanpa melihat dimensi Nabi Isa sa sebagai manusia suci pembawa agama fitrah (Kemanusiaan) maka ia telah menisbihkan keuniversalitas Islam sebagai agama kemanusiaan, kesetaraann, cinta, perdamaiaan dan agama peradaban.
Cak Nur membangun kerangka prualisme agama dan semangat toleransi berdasarkan pondasi Ketauhidan yang inklusif dan mendalam dengan argumentasi paham ke-Tuhanan Yang Maha Esa dan etika antara sesama dengan memberikan isterpretasi terhadap ayat Qur’an secara telaah kritis dan kontekstual dengan nafas zaman. Ia sering mengutip; “Inna Diina Inda Allah Al-Islam”. Dengan sikap tunduk yang benar dan diakui Yang Maha Benar Yakni Allah. Ialah sikap pasrah hanyalah kepada kebenaran itu. Ia tegaskan bahwa pada dasarnya semua agama itu sama. Walaupun memiliki jalan yang berbeda-beda. Namun, tujungannya sama dan satu (Setara). Dari cara berfikir itulah, ia menggali, mengembangkan dan memperkenalkan Visi Islam Indonesia ketingkat Internasional bahkan dunia. Inilah yang ia sebut sebagai Islam Agama Universal (Rahmatan Lil’Alamin) yang harus menemtapkan kita setara dalam kemanusiaan. Karena dengan itulah kita telah menempatkan semua agama telah mempunyai Hak dan Status yang sama. Tidak lagi lagi perbedaan apalagi tendensi sosial- horisontal antar sesama manusia. Karena kita setara maka menjadi keniscayaan Universal saling menjaga, menghormati dan menjunjung tinggi perbedaan (Toleransi). Seirama dengan apa yang dipesankan Buya Syafii Maarif bahwa semangat Ke-Islaman harus senafas dengan Ke-Indonesiaan dan Ke-Manusiaan. Itulah, Islam yang benar, damai, Islam yang kontruktif dan Islam yang dapat mengayomi bangsa ini. Tanpa membeda-bedakan suku, agama, dan lainnya. (Buya Syafii Maarif).
Ingat, Konsepsi Prualisme dan toleransi yang dikonsepkan oleh Cak Nur bukan hanya sekedar mengayu dalam gagasan semata akan tetapi saya menyebut sebagai kompas Candradimuka. Karena itulah, ia telah aktualisasi secara rill dalam nafas pola pikir, laku maupun sikap kesehariaannya dalam berhubungan dengan sahabat-sahabat agama kristennya, hindu, budha dan lainnya. Itulah kenapa, saya menyebut bahwa anak muda indonesia hari ini kita harus belajar pada sosok yang saya sebut sebagai Resonansi sekaligus Reformen Kemanusiaan sejati yang menyinari Api Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan sekaligus Kemodernan bagi kita semua. Cak Nur adalah guru dan teladanan kita semua, guru semua anak bangsa. “Selamat Marayakan Natal bagi sudara/i kristiani. Semoga, damai suka cita meryertai kita semua dalam semangat kebangsaan, meretas jalan keadilan.
*) Penulis adalah kader Nurcholish Madjid Society














