Airmadidi, DetikManado.com – Sepasang burung Maleo (Macrocephalon maleo) ditemukan di kaki Gunung Klabat, Kabupaten Minahasa Utara, Sulut. Temuan satwa endemik Sulawesi yang terancam punah ini disampaikan pihak PT Tirta Investama Airmadidi saat berjumpa Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda.
Keberadaan burung Maleo di wilayah ini dinilai unik karena berada di kawasan hutan pegunungan (non-typical upland forest), yang berbeda dari habitat aslinya yang biasanya ditemukan di area pantai atau dataran rendah berpanas bumi.
Menyikapi temuan itu, PT Tirta Investama (AQUA) Airmadidi bersama mitra CSR Lestari Bumi Hijau telah melaporkan perkembangan program konservasi tersebut secara langsung kepada Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda.
Langkah ini diambil untuk memastikan adanya payung perlindungan yang lebih kuat bagi ekosistem Gunung Klabat.
Humas PT Tirta Investama Airmadidi, Meiske Luntungan, menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen penuh tidak hanya pada operasional, tetapi juga pada penjagaan daya dukung lingkungan di sekitar wilayah produksi.
”Kami secara konsisten menjalankan rehabilitasi mata air dan penanaman pohon untuk memulihkan ekosistem,’’ ujarnya.

Dia mengatakan, temuan sepasang burung Maleo ini memberikan urgensi baru. Sehingga fokus pihaknya kini meluas pada perlindungan habitat tanpa menangkap satwa tersebut, melalui edukasi masif kepada masyarakat dan pemasangan papan larangan berburu di titik-titik strategis jelajah Maleo.
‘’Kami bekerja sama dengan BPBD, KPH Unit VI, dan kelompok pecinta alam untuk memantau pergerakan mereka secara intensif. Kami berharap pemerintah daerah dapat memperkuat status perlindungan kawasan ini agar ekosistem unik di kaki Gunung Klabat tetap terjaga bagi generasi mendatang,” ungkap Meiske Luntungan.
Dia memaparkan, untuk menjaga kelestarian kawasan dan satwa langka tersebut, sejumlah langkah konkret kini tengah diimplementasikan. Langkah itu berupa pemulihan fisik yakni pembangunan rorak atau lubang resapan untuk konservasi tanah dan air guna menjaga kelembaban tanah yang dibutuhkan ekosistem.
‘’Kami juga melakukan sosialisasi lintas sektor melalui edukasi kepada warga di batas jangkauan jelajah Maleo agar tidak melakukan perburuan atau perusakan lahan,’’ ujarnya.
Selain itu juga ada penguatan regulasi lokal. Hal itu untuk mendorong kolaborasi berkelanjutan dengan Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara dalam pengawasan hutan.
Keberadaan Maleo di kaki Gunung Klabat telah divalidasi melalui penelitian ilmiah berjudul “Behavioural Responses of the Endemic Maleo (Macrocephalon maleo) in a Non-Typical Upland Forest Habitat”. Penelitian ini dilakukan oleh akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Hapry FN Lapian dan Josephine Saerang, dan praktisi lingkungan, Brivy Lotulung.
Ketua Lestari Bumi Hijau, Brivy Lotulung, menjelaskan bahwa fenomena ini membuktikan bahwa kaki Gunung Klabat memiliki nilai keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan harus dijaga dari aktivitas yang merusak.
”Kehadiran Maleo di habitat non-tipikal ini adalah sinyal penting bagi ilmu pengetahuan dan konservasi,’’ ujarnya. (yos)















