Mengenang Joost berarti menatap cermin panggilan kita sendiri. Ia telah menunjukkan bahwa iman sejati tidak berhenti di ruang doa, tetapi bergerak ke jalan-jalan kehidupan. Bahwa kekudusan bukan hanya milik biarawan, tetapi setiap orang yang bekerja dengan kasih dan kejujuran. Bahwa pelayanan bukan soal posisi, tetapi soal disposisi hati.
Kini, nama Joost Leopold Tambajong menjadi simbol ketulusan dan integritas. Ia telah menulis Injil dengan hidupnya sendiri—bukan dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan nyata. Ia mengajarkan kita bahwa yang abadi bukanlah jabatan atau penghargaan, melainkan kebaikan yang diwariskan. Ia tidak membangun monumen dari batu, tetapi dari kenangan dan inspirasi. Dan monumen itu akan terus hidup di hati umat Keuskupan Manado.
Selamat beristirahat dalam damai, Joost Leopold Tambajong. Engkau telah menyelesaikan pertandingan dengan baik, memelihara iman, dan kini menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan bagi mereka yang setia. Cahaya hidupmu tidak padam—ia menyala dalam setiap hati yang ingin melayani seperti engkau: dengan kesederhanaan, kasih, dan totalitas.
Referensi:
- Konsili Vatikan II, Lumen Gentium (1964).
- Pontifical Council for Justice and Peace, Compendium of the Social Doctrine of the Church (2004).
- Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority (1961).
- Aristoteles, Nicomachean Ethics.
- Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium (2013).
- Yohanes Paulus II, Christifideles Laici (1988).














