Menyorot Kelayakan dan Pengawasan Panti Werdha Damai Manado yang Berusia Setengah Abad

Kondisi bangunan Panti Werda Damai yang terletak di Kelurahan Ranomuut pasca kebakaran yang menewaskan 16 lansia, pada minggu (28/12/2025) malam.

Manado, DetikManado.com – Malam kelam di pengujung tahun 2025 menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan di Kota Manado. Sebanyak 16 penghuni lanjut usia (lansia) Panti Werdha Damai, Kelurahan Ranomuut, Kecamatan Tikala, tewas terpanggang dalam kebakaran hebat pada Minggu (28/12/2025).

Peristiwa nahas ini tidak hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga membuka tabir tentang kondisi panti jompo yang sudah berdiri setengah abad itu: terjepit di lorong sempit, tanpa jalur evakuasi memadai, dan berada di bawah ancaman tebing.

Bacaan Lainnya

 

Akses Sulit, Evakuasi Penuh Perjuangan

​Senin pagi (29/12), suasana masih mencekam. Aparat kepolisian diselimuti puluhan warga yang memadati lorong menuju lokasi—sebuah akses yang begitu sempit, hanya cukup dilalui satu kendaraan roda empat. Hambatan geografis ini menjadi faktor krusial dalam tragedi tersebut.

​Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Manado, Jemmy Rotinsulu, mengakui kesulitan yang dihadapi timnya.

“Kami memang agak kesulitan mengendalikan kobaran api, dan mengevakuasi korban. Kondisi panti yang berada di lorong kecil menjadi salah satu hambatan,” ujarnya.

​Panti Werdha Damai, yang didirikan pada tahun 1970-an dengan nama awal Gertruida, kini berusia lebih dari 50 tahun. Bangunannya terkesan terisolasi. Di sisi kiri, jalan buntu. Di bagian atas, berdiri tebing curam dan beberapa rumah. Ditambah lagi, pagar tembok dan kawat berduri yang mengelilingi bangunan itu, alih-alih memberikan keamanan, justru memperparah kondisi, membuat para lansia seolah terkepung.

 

Terperangkap Tanpa Jalan Keluar

​Fakta paling menyakitkan adalah tidak adanya jalur evakuasi bencana yang standar. Penghuni yang mayoritas adalah lansia dan rentan, terperangkap di dalam bangunan tua yang menampung 35 orang dalam 20 kamar. Mereka yang selamat hanya berhasil dievakuasi berkat perjuangan heroik warga setempat yang berinisiatif menembus pagar dan menggunakan jalur belakang.

​”Panti dengan pagar tembok dan kawat berduri memang membuat proses evakuasi cukup sulit,” tutur salah satu warga yang ikut dalam upaya penyelamatan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: bagaimana sebuah fasilitas sosial yang menampung nyawa-nyawa rentan bisa beroperasi tanpa standar keselamatan dasar selama puluhan tahun?

 

Koordinasi vs Realitas Lapangan

​Menanggapi sorotan publik, Wakil Wali Kota Manado Richard Sualang buru-buru menepis anggapan adanya pembiaran. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Manado, melalui Dinas Sosial Kota dan Provinsi, telah berkoordinasi dan membantu pihak yayasan yang mengelola panti tersebut setiap tahun.

​”Tidak ada pembiaran. Sangat bagus kita koordinasi. Sudah kita lakukan bertahun-tahun,” tegas Richard Sualang.

​Namun, pernyataan koordinasi yang “sangat bagus” itu kontras dengan realitas di lapangan: lokasi yang terpencil, di bawah tebing, dan ketiadaan jalur penyelamatan darurat.

Richard Sualang juga enggan menanggapi secara spesifik mengenai kondisi fisik panti yang berada di gang sempit dan tanpa jalur evakuasi tersebut.

​Tragedi ini menjadi panggilan darurat bagi semua pihak untuk mengevaluasi secara menyeluruh kelayakan dan pengawasan terhadap seluruh panti sosial, khususnya yang sudah berusia tua.

Ada 16 lansia telah menjadi korban dari bangunan yang terisolasi dan rentan. Kisah Panti Werdha Damai adalah peringatan bahwa koordinasi administratif tidak cukup; yang dibutuhkan adalah pengawasan struktural yang menjamin keselamatan nyawa para penghuninya. (yos)


Pos terkait